Rencana "Kampung Haji" Indonesia di Arab Saudi: Solusi Tekan Biaya Ibadah?
MAKKAH, 2026 – Kabar gembira datang bagi calon jemaah haji Indonesia. Di tengah fluktuasi biaya ibadah haji global, pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah mempercepat realisasi proyek strategis bernama "Kampung Haji" di Makkah, Arab Saudi. Proyek ini bukan sekadar fasilitas penginapan biasa, melainkan sebuah kawasan terpadu yang diproyeksikan menjadi kunci utama dalam menekan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di masa depan.
Terobosan Diplomasi dan Investasi
Langkah ini tercatat dalam sejarah karena untuk pertama kalinya, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengubah regulasi internalnya demi mengizinkan negara lain—dalam hal ini Indonesia—untuk memiliki lahan di Kota Suci Makkah. Lokasi yang dipilih berada di kawasan Thakher City, hanya berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Masjidil Haram.
Melalui badan investasi Danantara, Indonesia telah mulai mengakuisisi aset properti, termasuk hotel seperti Novotel Thakher, yang akan dikembangkan menjadi kompleks berkapasitas ribuan kamar. Rencananya, kawasan ini akan mencakup 13 menara yang mampu menampung lebih dari 23.000 jemaah sekaligus.
Bagaimana Kampung Haji Menekan Biaya?
Banyak pihak bertanya, sejauh mana proyek ini mampu membuat biaya haji lebih terjangkau? Ada tiga mekanisme utama yang ditawarkan:
-
Efisiensi Akomodasi: Dengan memiliki aset sendiri, pemerintah tidak lagi bergantung pada skema sewa hotel musiman yang harganya terus melambung setiap tahun. Ini memberikan stabilitas harga dalam jangka panjang.
-
Ekosistem Ekonomi Mandiri: Kampung Haji akan dilengkapi dengan pusat kuliner halal dan logistik yang memasok kebutuhan jemaah langsung dari UMKM Indonesia. Hal ini mengurangi ketergantungan pada vendor lokal Saudi yang mahal.
-
Pengurangan Masa Tinggal: Didukung dengan negosiasi penerbangan yang lebih masif, keberadaan pusat koordinasi mandiri ini memungkinkan pemerintah memangkas durasi tinggal jemaah dari rata-rata 41 hari menjadi sekitar 31 hari, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup dan operasional.
Fasilitas Masa Depan
Menteri Agama mengungkapkan bahwa Kampung Haji ini nantinya akan terhubung dengan Terowongan Al-Hujun yang langsung menuju Masjidil Haram. Fasilitas pendukung seperti klinik kesehatan standar Indonesia, pusat informasi, hingga layanan perlindungan jemaah akan terpusat di satu titik, sehingga jemaah lansia dapat beribadah dengan lebih nyaman dan aman.
Meskipun pembangunan secara menyeluruh ditargetkan rampung dalam tiga tahun ke depan, pada musim haji 2026 ini, pemerintah sudah mulai mengoperasikan sebagian kamar untuk uji coba layanan.
Analisis Singkat: Tantangan ke Depan
Meski menjanjikan, tantangan besar menanti pada sisi manajemen operasional. Pengelolaan aset sebesar ini di luar negeri membutuhkan transparansi dan profesionalisme tinggi agar tidak menjadi beban baru bagi kas negara. Namun, jika berhasil, "Kampung Haji" akan menjadi warisan monumental yang membuktikan bahwa negara hadir untuk mempermudah jalan rakyatnya menuju Baitullah.